Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “MERDEKA” dan angkat sejata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami…
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa menghitung arti 4-5 ribu nyawa
Kami Cuma tulang belulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau
Jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemengan dan harapan
Atau
Tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam yang sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan,teruskan jiwa kami
Menjaga bung Karno
Menjaga bung Hatta
Menjaga bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan mimpi
Kenang, kenanglah kami…
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami berbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar