Senin, 08 November 2010

" KRAWANG-BEKASI "

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “MERDEKA” dan angkat sejata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

Terbayang kami maju dan mendegap hati?



Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami…



Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa menghitung arti 4-5 ribu nyawa



Kami Cuma tulang belulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau

Jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemengan dan harapan

Atau

Tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam yang sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding berdetak



Kenang, kenanglah kami

Teruskan,teruskan jiwa kami

Menjaga bung Karno

Menjaga bung Hatta

Menjaga bung Sjahrir



Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan mimpi



Kenang, kenanglah kami…

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami berbaring antara Krawang-Bekasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar